Masih ada ya orang-orang kayak beliau….
Wednesday, January 21st, 2009GURAT-gurat tercetak jelas di wajah Disnadda Diskul. Rambut putihnya pun memonopoli kepala dan semakin mempertegas betapa pangeran asal Thailand itu kaya akan pengalaman hidup.
Namun, kesan tua dan tak berdaya tidak akan Anda dapatkan saat berbicara dengan Disnadda soal pemberantasan kemiskinan. Pria yang biasa disapa Khun Chai itu masih memiliki badan yang tegap dan gesit. Cara berpakaiannya pun selalu sederhana, kemeja dan celana berwarna hitam, tanpa embel-embel perhiasan lain kecuali kacamata yang menggantung di depan matanya.
Tak ada satu pun benda yang ia pakai bisa dijadikan petunjuk kalau Kun Chai adalah seorang pangeran, kecuali karisma dan kematangan memimpin.
Namun, di balik kesederhanaannya itu, otaknya kaya akan ide-ide untuk membantu orang-orang agar bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
“Selama saya masih hidup saya akan terus berpikir dan melakukan sesuatu. Ketika menolong orang, memang bukan uang yang saya dapat. Tapi, saya dapat kepuasan yang tidak bisa dibeli dengan uang,” ujar pria kelahiran Bangkok, 14 November 1939 itu.
Menurutnya, ada hal-hal tertentu yang tak bisa dibeli dengan uang. Karena itu, ia tidak akan berhenti berbuat hingga ajal menjemputnya. Sebab, ada dorongan yang sangat kuat dalam dirinya untuk terus menyebarkan proyek Doi Tung kepada yang membutuhkan.
“Anda akan bangga karena bisa menolong orang. Itu yang mendorong saya sangat kuat. Saya tidak akan mengambil apa pun dari orang lain. Saya sudah berkecukupan walau saya tidak kaya dan bukan miliarder,” kata lulusan Universitas Bloomington Amerika itu.
Saat ini, ia merasa uang yang ia miliki sudah cukup sehingga sudah saatnya membantu orang lain. “Kalau ada orang yang punya uang miliaran, tapi masih merasa belum cukup, mereka sebenarnya miskin!” tegas Khun Chai.
Ia mengatakan banyak orang kaya di dunia ini dan seharusnya mereka membagi harta mereka kepada orang yang lebih membutuhkan. Siapa yang melanjutkan proyek mulia ini saat Anda telah tiada? “Jika hari ini saya mati, saya tahu ada yang menggantikan saya. Anak saya. Tiga puluh tahun mendatang harus ada yang memimpin proyek ini karena pertunjukan harus terus berjalan,” katanya.
Ia menyadari usianya sudah memasuki masa senja sehingga kemampuan dan staminanya semakin menurun. Karena itu, ia sangat berharap anaknya lebih pintar darinya agar bisa menelurkan ide-ide yang lebih brilian. “Karena itu, dia harus pergi ke sekolah yang lebih baik dan belajar teknologi,” imbuhnya.
Selain itu, ia memiliki satu kunci kesuksesan dalam menjalankan proyek-proyeknya, yaitu kerja, kerja, dan kerja.
“Jangan banyak ngomong, keluar dan lakukan. Jika terlalu banyak ngomong, pekerjaan tidak akan selesai,” tegasnya.