Archive for August, 2009

Ramadhan

Tuesday, August 25th, 2009

Marhaban Ya Ramadhan…

Selamat menjalankan ibadah Puasa RAmadhan…

Semoga hari esok lebih baik dari hari kemaren…

Amin.

SUDAHLAH!

Monday, August 24th, 2009

Buat Master B1999

Sudah beda ya  Sy sekarang…

Jangan begitu lagi sama saya…

Sudah gak musim imil yang macam gini…

Sejak taun 1999 lho imil macam ini…

Sejak lab kom di lorong tengah jurusanku dulu…

Imil tanggal

Monday, August 17, 2009 3:10 PM

Saya tau siapa pengirimnya…dari dulu kala!

Bisa di track dengan mudah:P

Kalo gentle ya gak macam ginilah…

Gak lari ke negara tetangganya orang kate…

Yang gentle ajalah…

Ato mau nama lengkap di tulis di blog saya?

Eh, gw dah hampir sembuh loh sekarang.

Dah beda!

Dah gak punya banyak toleransi dan kata maaf lagi…

Maaf.

Lagian ini Ramadhan…tau kan tradisi orang kami?

Jangan sampai ada rasa bete hanya gara-gara ingat masa lalu…

Tolong hargai.

alergong

Tuesday, August 11th, 2009

www.bantalsalju.com

PARA KETURUNAN ENDOG

Tuesday, August 11th, 2009
[ Minggu, 09 Agustus 2009 ]

WARNA merah-putih mulai mendominasi jalanan Karang Kadempel. Malam harinya, binar cahaya lampu penjor bak ribuan kunang-kunang, seperti tradisi pada umumnya demi mengenang jasa pendiri negeri Ngamarta. Di taman kota diadakan lomba memindahkan kelereng untuk Taman Kanak-Kanak sak Karang Kadempel.

”Al Bagio, ya, ya, ayo dikit lagi. Eits, tahan keseimbangan, horeee,” teriak Dhe­nok Ceplis melihat putranya menyentuh garis finis. Dhenok Ceplis langsung mengulurkan sebotol susu segar kepada Al Bagio. Sedikit agak gimanaaaa gitchuu, Dhenok Ceplis yang bersolek perlen­te menerangkan mahalnya harga susu Nutrigong yang diminum Al Bagio kepada mereka yang mendekat.

Dari lintasan yang lain, juga terdengar teriakan histeris. Tampak tubuh Al Khoir di-pondong-pondong. ”Ya, begini. Anak hasil minum ASI. Susunya buat anaknya, lha kalungnya yo buat father-nya,” ujar Roro Iteung sembari memeluk anaknya. Ada senyum sinis di bibirnya yang diarahkan kepada Dhenok Ceplis.

Akhirnya, keduanya dipertemukan dalam laga final. Tampak, bendera start sudah dikibaskan. Di tiga meter pertama, posisi mereka seimbang dan saling kejar. Setelahnya, tubuh Al Khoir terlihat ringan melesat cepat. Wajah Dhenok Ceplis terlihat tegang, coz Al Bagio terlihat capai.

Tiba-tiba, botol susu kempong kesampluk dan nggelontor masuk arena. Al Khoir yang sedang konsentrasi tidak melihat arah datangnya botol itu. Mak gedabruz, bibir Al Khoir mencium tanah, sedikit ada darah.

Al Bagio, yang melesat di belakangnya juga tak bisa mengerem­ men­­da­­dak. Senggolan kecil terjadi, kedua tubuh itu kruntelan. Debu be­ter­bang­an, sedikit mengganggu pemandangan. Samar, keduanya se­­­perti ter­l­ihat adu jotos. Penonton bersorak sorai, keadaan memanas dan full emosi.

Kerusuhan menjalar ke Roro Iteung dan Dhenok Ceplis. Mereka saling jambak-jambakan, saling uleng-ulengan. Penonton bertambah riuh. Keadaan makin tidak terkendali.

Dari jauh, Bagong dan Gareng berlari mendekat. Susah payah keduanya memisahkan istri-istri mereka. Satu-dua padu masih terjadi. Saling ejek masih sesekali meluncur. Tapi, Roro Iteung versus Dhenok Ceplis berhasil dilerai. Al Bagio versus Al Khoir pun rampung. Tapi, alangkah kagetnya Bagong melihat di sekitar mata Al Bagio muncul lebam hitam. Gareng pun mendapati mata putranya kero.

Bagong dan Gareng lalu saling tatap, keduanya tegang menahan emosi. Bagong keras menuding tepat di wajah Gareng, ”Kamu!! ” ujarnya. Ucapat itu cepat dipotong Gareng, ”Wookey kita cari tahu, bagus mana susu kaleng atau ASI, daripada udregan!”

Keduanya berjalan ke arah rumah Semar. Baru separo perjalanan, mereka bersua Togog. Menurutnya, susu kaleng dan ASI sama-sama bagus. ASI mengandung formula untuk kekebalan tubuh sedang susu formula atau kaleng adalah alternatif yang juga mengandung vitamin tambahan. ”Kalau tentang luka Bagio dan Khoir, divisum aja gih biar lebih jelas,” tambah Togog.

Tapi mereka tetap berjalan ke kediaman Semar sebelum ke rumah sakit. Di halaman depan, ibu Kanastren menunjukkan Semar sedang tafakur di musala embun. Setelah Semar enjoy bersila dan mereka duduk mengelilinginya, Gareng dan Bagong saling bercerita menurut versinya masing-masing. ”Gak bisa, tak ada jalan lain! Meja hijau! Biar mampus sekalian,” emosi Bagong. Gareng hanya memandang tak berkomentar.

Semar hanya tersenyum simpul. Masih dari musala embun, Semar minta tolong Ibu Kanastren untuk mengontak Petruk. ”Kalian semua tenang, gak usah emosi. Liat aja nanti,” ujarnya.

Selang beberapa menit Petruk datang lengkap dengan peranti video shooting-nya. Dari tampilan di layar tivi jelas terlihat, Al Bagio dan Al Khoir tidak saling adu jotos. Al Khoir sekuat tenaga menahan laju tubuh mereka yang nglundung-nglundung. Tangan Al Bagio juga melindungi kepala Al Khoir dari benturan batu. Malu-malu Gareng dan Bagong saling lirik, tatapan mereka bertemu dan senyum pun merekah di bibir keduanya.

Mengenai keanehan fisik, Semar menerangkan dulu ia memondokkan Bagong dan Gareng pada seorang Begawan Sakti. Gareng kalau mengikuti pelajaran sering acuh dan hanya melihat dengan ujung mata. Bagong yang senangnya ngantuk, untuk mengikuti pelajaran sering menahan biji mata dengan batang-batang korek api. Sang Begawan Sakti, mengutuk keduanya dengan kondisi Gareng matanya kero dan Bagong matanya melolo mau meloncat keluar. ”Sebenarnya, dulu kalian nguantenge rek,” gurau Semar.

But btw, yen susu, baiknya susu kaleng apa ASI, Mo?” potong Gareng di tengah riuhnya tertawa. Suasana jadi hening, semua memandang ke Semar. Satu dua titik air merembes dari mata Semar yang melangkah memasuki kamarnya. Semua diam menunggu di depan kamar.

Dari dalam kamar, dengan suara parau, Semar berujar, untuk keadaan darurat, susu kaleng juga baik. Tetapi Al Khoir dan Al Bagio beruntung bisa menikmati ASI yang tidak sekadar menyehatkan. Juga memunculkan benih-benih cinta kasih dan membangun kedekatan ibu-anak. ”Sementara aku yang terlahir dari putih telur, tidak pernah sedikit pun nyecep susu apalagi susu Ibu. Ya air susuku, air susu Ibu Pertiwi,” ujar Semar. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

PIT STOP

Tuesday, August 11th, 2009
[ Minggu, 09 Agustus 2009 ]
Oleh : J. Sumardianta*

Di ruang pit stop, pembalap melakukan penyegaran, menerima instruksi, memperbaiki mesin, mengisi bahan bakar, dan mengganti suku cadang.

Lagu merdu adalah lagu yang bi­­sa mengurai pikiran paling sedih. Syair lagu Tak Ada Yang Abadi milik Ariel Peterpan sungguh memberikan mak­na paling esensial buat misteri ke­­pergian terlalu cepat Urip Ariyan­to bin Kustiyo alias Mbah Surip. La­gu itu, dengan mengharukan, ber­kisah tentang kesementaraan hidup di dunia ini. Urip mung mampir ngom­be. Mung sakedeping netra. Hi­dup sekadar mampir minum. Ha­nya sekejap mata. Sehebat apa pun puting beliung mengamuk, sekencang apa pun jantung berdetak, tidak akan mampu berpacu melawan takdir.

Bagai meteor yang sekonyong-ko­nyong memijarkan cahaya, tapi dalam sekejap menghilang, pelantun la­gu-lagu reggae berpenampilan ek­sen­trik itu menggenapi kebenaran ung­kapan lama: kesturi mati karena bau­nya. Mbah Surip wafat di puncak ketenarannya.

Bermula dari heboh lagu sederhana nan menghibur Tak Gendong dan Ba­ngun Tidur, jadwal pentas Mbah Su­rip supergila padatnya. Kelelahan mem­buat tubuh si Mbah Surip limbung. Bunga kesturi yang sedang mekar ranum itu rontok saat me­ne­bar­kan aroma keharuman. Ma­sya­rakat Jepang punya sebutan karoshi,mati kelelahan karena kebanyakan kerja.

Kesibukan pentas, audiensi dengan fans, dan sesi wawancara wartawan men­jadi lubang hitam yang menelan habis energi artis pecandu kopi dan pe­rokok berat ini. Ketenaran memak­sanya menjadi hiperaktif. Popularitas menggiringnya pada ujung ke­le­tihan. Mbah Surip, saat diantar anak­nya “mengungsi” dengan sepeda motor ke rumah komedian Mamik Pra­kosa, sempoyongan dihajar kesibukan permanen.

Mbah Surip, meminjam ungkapan Da­vid Riesman dalam The Lonely Crowd (2001), adalah korban kerja sa­ma bercorak antagonistis rezim budaya massa -aku memperalatmu untuk mendapatkan apa yang aku ingin­kan. Almarhum penyanyi Gombloh dan pelawak Gepeng, pendahulunya, setali tiga uang.Diam-diam pro­duser, event organizer, stasiun te­levisi, media cetak, sentra-sentra clubbing, provider layanan telepon se­luler, dan fans menjadi monster yang menelan Mbah Surip di padang gurun kedangkalan artifisialitas.

Popularitas itu duri. Hukum besi ke­tenaran ini tidak bisa dihindari pe­sohor mana pun. Ketenaran bisa me­merosokkan selebriti pada kesibukan permanen. Kesibukan perma­nen merupakan keberhasilan palsu. Tak ubahnya dinding depan mente­reng sebuah gedung. Saat kesibukan di­paksa berhenti total, bangunan itu pun runtuh. Kesibukan permanen bu­kan saja tidak cerdas, tapi juga ti­dak waras. Ada sebuah kartun yang menggambarkan seorang pria duduk dalam peti matinya dengan sebuah kom­puter jinjing di pangkuan sedang membalas e-mail. Di bawah kartun tertera kalimat “Bahkan ketika kamu mati, kotak inbox masih penuh”.

Kesibukan membuat orang berope­ra­si dengan mode sedang bekerja te­rus-menerus. Baru beristirahat ke­tika segalanya telah terlambat. Kesibukan permanen bukan hanya kon­traproduktif. Pun membikin kewa­lahan. Kesibukan itu mengabdi waktu, bukan berorientasi pada tujuan. Terlalu sibuk merupakan halangan terbesar bagi pertumbuhan spi­ritual. Itu sebabnya, ketenaran dan kesuksesan mesti ditinjau ulang de­ngan cara mengaudit kesibukan.

Sudah fana hidup ini terkadang amat kejam dan sia-sia. Vanitas va­nitatum mundi. Kesia-siaan sebuah du­nia yang sia-sia. Adriano, mantan pe­nyerang Internazionale Milan, m­elarikan diri dari Italia. Ia memutus kon­trak secara sepihak karena tidak bahagia. Kemasyhuran sebagai pesepak bola rupanya membuat Adriano de­presi. Tiada malam yang tak dile­wat­kannya untuk mabuk di kelab ma­lam Kota Milano.

Bintang sepak bola Brazil itu me­milih meninggalkan Serie A yang gla­mor. Ia pulang ke kampung halaman. Adriano kembali menemukan gai­rah hidup di kampungnya. Di tem­pat kelahirannya yang kumuh dan merupakan sentra peredaran nar­koba, Adriano bisa berjalan de­ngan celana pendek tanpa alas kaki. Mengunjungi teman-teman masa ke­cilnya. Justru ketika dikembalikan ke habitatnya, Adriano merasa tak ke­kurangan apa pun. Satu-satunya ke­kurangan hanyalah perasaan syukur. Dan, itulah yang tidak diperoleh­nya di Serie A.

Balap mobil Formula 1 (F1) adalah olah­raga paling kencang di dunia. Un­sur pokok dalam memenangi per­tan­dingan F1 adalah pit stop. Tak se­orang pembalap pun, sekencang-ken­cangnya melaju, bisa mengangkat trofi kemenangan tanpa mengambil pit stop. Di ruang pit stop, pemba­lap melakukan penyegaran, menerima instruksi, memperbaiki mesin, mengisi bahan bakar, dan mengganti suku cadang. Lalu berangkat lagi dengan kondisi segar. Kemenangan seorang pembalap, salah satunya, sangat ditentukan manajemen pit stop.

Melatih kebiasaan berhenti secara ter­atur sebelum segalanya terlambat merupakan kebajikan penting untuk menjadi sukses dan waras dalam ma­syarakat serba tergesa, pragmatis, dan instan. Bila tidak pernah berhenti, pada akhirnya yang terlihat se­pintas hanyalah bagian permukaan dari hidup ini. Waktu seakan lenyap. Ke­dalaman, kekayaan, dan tekstur tiap kesempatan hilang. Berhenti, meski hanya beberapa menit sehari, merupakan strategi untuk terhubung kembali dengan visi, kearifan, dan tujuan otentik.

Sewaktu datang ke rumah Mamik Prakosa, Mbah Surip sebenarnya hendak mengambil pit stop. Tapi, mesin turbo (jantung) Mbah Surip sudah tidak mau diajak beradu cepat lagi dengan budaya kemrungsung rutinitas jadwal pentas yang sudah padat yang masih terus dijejalkan. Requiem aeternam dona eis, Domine: Et lux perpetua luceat eis (Istirahat kekal berikanlah dia, ya Tuhan: Dan moga-moga terang abadi menyinari dia). (*)

*J. Sumardianta, penulis buku Simply Amazing: Inspirasi Menyentuh Bergelimang Makna (2009)