Ramadhan
Tuesday, August 25th, 2009Marhaban Ya Ramadhan…
Selamat menjalankan ibadah Puasa RAmadhan…
Semoga hari esok lebih baik dari hari kemaren…
Amin.
Marhaban Ya Ramadhan…
Selamat menjalankan ibadah Puasa RAmadhan…
Semoga hari esok lebih baik dari hari kemaren…
Amin.
Buat Master B1999
Sudah beda ya Sy sekarang…
Jangan begitu lagi sama saya…
Sudah gak musim imil yang macam gini…
Sejak taun 1999 lho imil macam ini…
Sejak lab kom di lorong tengah jurusanku dulu…
Imil tanggal
Saya tau siapa pengirimnya…dari dulu kala!
Bisa di track dengan mudah:P
Kalo gentle ya gak macam ginilah…
Gak lari ke negara tetangganya orang kate…
Yang gentle ajalah…
Ato mau nama lengkap di tulis di blog saya?
Eh, gw dah hampir sembuh loh sekarang.
Dah beda!
Dah gak punya banyak toleransi dan kata maaf lagi…
Maaf.
Lagian ini Ramadhan…tau kan tradisi orang kami?
Jangan sampai ada rasa bete hanya gara-gara ingat masa lalu…
Tolong hargai.
www.bantalsalju.com
WARNA merah-putih mulai mendominasi jalanan Karang Kadempel. Malam harinya, binar cahaya lampu penjor bak ribuan kunang-kunang, seperti tradisi pada umumnya demi mengenang jasa pendiri negeri Ngamarta. Di taman kota diadakan lomba memindahkan kelereng untuk Taman Kanak-Kanak sak Karang Kadempel.
”Al Bagio, ya, ya, ayo dikit lagi. Eits, tahan keseimbangan, horeee,” teriak Dhenok Ceplis melihat putranya menyentuh garis finis. Dhenok Ceplis langsung mengulurkan sebotol susu segar kepada Al Bagio. Sedikit agak gimanaaaa gitchuu, Dhenok Ceplis yang bersolek perlente menerangkan mahalnya harga susu Nutrigong yang diminum Al Bagio kepada mereka yang mendekat.
Dari lintasan yang lain, juga terdengar teriakan histeris. Tampak tubuh Al Khoir di-pondong-pondong. ”Ya, begini. Anak hasil minum ASI. Susunya buat anaknya, lha kalungnya yo buat father-nya,” ujar Roro Iteung sembari memeluk anaknya. Ada senyum sinis di bibirnya yang diarahkan kepada Dhenok Ceplis.
Akhirnya, keduanya dipertemukan dalam laga final. Tampak, bendera start sudah dikibaskan. Di tiga meter pertama, posisi mereka seimbang dan saling kejar. Setelahnya, tubuh Al Khoir terlihat ringan melesat cepat. Wajah Dhenok Ceplis terlihat tegang, coz Al Bagio terlihat capai.
Tiba-tiba, botol susu kempong kesampluk dan nggelontor masuk arena. Al Khoir yang sedang konsentrasi tidak melihat arah datangnya botol itu. Mak gedabruz, bibir Al Khoir mencium tanah, sedikit ada darah.
Al Bagio, yang melesat di belakangnya juga tak bisa mengerem mendadak. Senggolan kecil terjadi, kedua tubuh itu kruntelan. Debu beterbangan, sedikit mengganggu pemandangan. Samar, keduanya seperti terlihat adu jotos. Penonton bersorak sorai, keadaan memanas dan full emosi.
Kerusuhan menjalar ke Roro Iteung dan Dhenok Ceplis. Mereka saling jambak-jambakan, saling uleng-ulengan. Penonton bertambah riuh. Keadaan makin tidak terkendali.
Dari jauh, Bagong dan Gareng berlari mendekat. Susah payah keduanya memisahkan istri-istri mereka. Satu-dua padu masih terjadi. Saling ejek masih sesekali meluncur. Tapi, Roro Iteung versus Dhenok Ceplis berhasil dilerai. Al Bagio versus Al Khoir pun rampung. Tapi, alangkah kagetnya Bagong melihat di sekitar mata Al Bagio muncul lebam hitam. Gareng pun mendapati mata putranya kero.
Bagong dan Gareng lalu saling tatap, keduanya tegang menahan emosi. Bagong keras menuding tepat di wajah Gareng, ”Kamu!! ” ujarnya. Ucapat itu cepat dipotong Gareng, ”Wookey kita cari tahu, bagus mana susu kaleng atau ASI, daripada udregan!”
Keduanya berjalan ke arah rumah Semar. Baru separo perjalanan, mereka bersua Togog. Menurutnya, susu kaleng dan ASI sama-sama bagus. ASI mengandung formula untuk kekebalan tubuh sedang susu formula atau kaleng adalah alternatif yang juga mengandung vitamin tambahan. ”Kalau tentang luka Bagio dan Khoir, divisum aja gih biar lebih jelas,” tambah Togog.
Tapi mereka tetap berjalan ke kediaman Semar sebelum ke rumah sakit. Di halaman depan, ibu Kanastren menunjukkan Semar sedang tafakur di musala embun. Setelah Semar enjoy bersila dan mereka duduk mengelilinginya, Gareng dan Bagong saling bercerita menurut versinya masing-masing. ”Gak bisa, tak ada jalan lain! Meja hijau! Biar mampus sekalian,” emosi Bagong. Gareng hanya memandang tak berkomentar.
Semar hanya tersenyum simpul. Masih dari musala embun, Semar minta tolong Ibu Kanastren untuk mengontak Petruk. ”Kalian semua tenang, gak usah emosi. Liat aja nanti,” ujarnya.
Selang beberapa menit Petruk datang lengkap dengan peranti video shooting-nya. Dari tampilan di layar tivi jelas terlihat, Al Bagio dan Al Khoir tidak saling adu jotos. Al Khoir sekuat tenaga menahan laju tubuh mereka yang nglundung-nglundung. Tangan Al Bagio juga melindungi kepala Al Khoir dari benturan batu. Malu-malu Gareng dan Bagong saling lirik, tatapan mereka bertemu dan senyum pun merekah di bibir keduanya.
Mengenai keanehan fisik, Semar menerangkan dulu ia memondokkan Bagong dan Gareng pada seorang Begawan Sakti. Gareng kalau mengikuti pelajaran sering acuh dan hanya melihat dengan ujung mata. Bagong yang senangnya ngantuk, untuk mengikuti pelajaran sering menahan biji mata dengan batang-batang korek api. Sang Begawan Sakti, mengutuk keduanya dengan kondisi Gareng matanya kero dan Bagong matanya melolo mau meloncat keluar. ”Sebenarnya, dulu kalian nguantenge rek,” gurau Semar.
“But btw, yen susu, baiknya susu kaleng apa ASI, Mo?” potong Gareng di tengah riuhnya tertawa. Suasana jadi hening, semua memandang ke Semar. Satu dua titik air merembes dari mata Semar yang melangkah memasuki kamarnya. Semua diam menunggu di depan kamar.
Dari dalam kamar, dengan suara parau, Semar berujar, untuk keadaan darurat, susu kaleng juga baik. Tetapi Al Khoir dan Al Bagio beruntung bisa menikmati ASI yang tidak sekadar menyehatkan. Juga memunculkan benih-benih cinta kasih dan membangun kedekatan ibu-anak. ”Sementara aku yang terlahir dari putih telur, tidak pernah sedikit pun nyecep susu apalagi susu Ibu. Ya air susuku, air susu Ibu Pertiwi,” ujar Semar. (*)
Oleh: Ki Slamet Gundono
Di ruang pit stop, pembalap melakukan penyegaran, menerima instruksi, memperbaiki mesin, mengisi bahan bakar, dan mengganti suku cadang.
—
Lagu merdu adalah lagu yang bisa mengurai pikiran paling sedih. Syair lagu Tak Ada Yang Abadi milik Ariel Peterpan sungguh memberikan makna paling esensial buat misteri kepergian terlalu cepat Urip Ariyanto bin Kustiyo alias Mbah Surip. Lagu itu, dengan mengharukan, berkisah tentang kesementaraan hidup di dunia ini. Urip mung mampir ngombe. Mung sakedeping netra. Hidup sekadar mampir minum. Hanya sekejap mata. Sehebat apa pun puting beliung mengamuk, sekencang apa pun jantung berdetak, tidak akan mampu berpacu melawan takdir.
Bagai meteor yang sekonyong-konyong memijarkan cahaya, tapi dalam sekejap menghilang, pelantun lagu-lagu reggae berpenampilan eksentrik itu menggenapi kebenaran ungkapan lama: kesturi mati karena baunya. Mbah Surip wafat di puncak ketenarannya.
Bermula dari heboh lagu sederhana nan menghibur Tak Gendong dan Bangun Tidur, jadwal pentas Mbah Surip supergila padatnya. Kelelahan membuat tubuh si Mbah Surip limbung. Bunga kesturi yang sedang mekar ranum itu rontok saat menebarkan aroma keharuman. Masyarakat Jepang punya sebutan karoshi,mati kelelahan karena kebanyakan kerja.
Kesibukan pentas, audiensi dengan fans, dan sesi wawancara wartawan menjadi lubang hitam yang menelan habis energi artis pecandu kopi dan perokok berat ini. Ketenaran memaksanya menjadi hiperaktif. Popularitas menggiringnya pada ujung keletihan. Mbah Surip, saat diantar anaknya “mengungsi” dengan sepeda motor ke rumah komedian Mamik Prakosa, sempoyongan dihajar kesibukan permanen.
Mbah Surip, meminjam ungkapan David Riesman dalam The Lonely Crowd (2001), adalah korban kerja sama bercorak antagonistis rezim budaya massa -aku memperalatmu untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Almarhum penyanyi Gombloh dan pelawak Gepeng, pendahulunya, setali tiga uang.Diam-diam produser, event organizer, stasiun televisi, media cetak, sentra-sentra clubbing, provider layanan telepon seluler, dan fans menjadi monster yang menelan Mbah Surip di padang gurun kedangkalan artifisialitas.
Popularitas itu duri. Hukum besi ketenaran ini tidak bisa dihindari pesohor mana pun. Ketenaran bisa memerosokkan selebriti pada kesibukan permanen. Kesibukan permanen merupakan keberhasilan palsu. Tak ubahnya dinding depan mentereng sebuah gedung. Saat kesibukan dipaksa berhenti total, bangunan itu pun runtuh. Kesibukan permanen bukan saja tidak cerdas, tapi juga tidak waras. Ada sebuah kartun yang menggambarkan seorang pria duduk dalam peti matinya dengan sebuah komputer jinjing di pangkuan sedang membalas e-mail. Di bawah kartun tertera kalimat “Bahkan ketika kamu mati, kotak inbox masih penuh”.
Kesibukan membuat orang beroperasi dengan mode sedang bekerja terus-menerus. Baru beristirahat ketika segalanya telah terlambat. Kesibukan permanen bukan hanya kontraproduktif. Pun membikin kewalahan. Kesibukan itu mengabdi waktu, bukan berorientasi pada tujuan. Terlalu sibuk merupakan halangan terbesar bagi pertumbuhan spiritual. Itu sebabnya, ketenaran dan kesuksesan mesti ditinjau ulang dengan cara mengaudit kesibukan.
Sudah fana hidup ini terkadang amat kejam dan sia-sia. Vanitas vanitatum mundi. Kesia-siaan sebuah dunia yang sia-sia. Adriano, mantan penyerang Internazionale Milan, melarikan diri dari Italia. Ia memutus kontrak secara sepihak karena tidak bahagia. Kemasyhuran sebagai pesepak bola rupanya membuat Adriano depresi. Tiada malam yang tak dilewatkannya untuk mabuk di kelab malam Kota Milano.
Bintang sepak bola Brazil itu memilih meninggalkan Serie A yang glamor. Ia pulang ke kampung halaman. Adriano kembali menemukan gairah hidup di kampungnya. Di tempat kelahirannya yang kumuh dan merupakan sentra peredaran narkoba, Adriano bisa berjalan dengan celana pendek tanpa alas kaki. Mengunjungi teman-teman masa kecilnya. Justru ketika dikembalikan ke habitatnya, Adriano merasa tak kekurangan apa pun. Satu-satunya kekurangan hanyalah perasaan syukur. Dan, itulah yang tidak diperolehnya di Serie A.
Balap mobil Formula 1 (F1) adalah olahraga paling kencang di dunia. Unsur pokok dalam memenangi pertandingan F1 adalah pit stop. Tak seorang pembalap pun, sekencang-kencangnya melaju, bisa mengangkat trofi kemenangan tanpa mengambil pit stop. Di ruang pit stop, pembalap melakukan penyegaran, menerima instruksi, memperbaiki mesin, mengisi bahan bakar, dan mengganti suku cadang. Lalu berangkat lagi dengan kondisi segar. Kemenangan seorang pembalap, salah satunya, sangat ditentukan manajemen pit stop.
Melatih kebiasaan berhenti secara teratur sebelum segalanya terlambat merupakan kebajikan penting untuk menjadi sukses dan waras dalam masyarakat serba tergesa, pragmatis, dan instan. Bila tidak pernah berhenti, pada akhirnya yang terlihat sepintas hanyalah bagian permukaan dari hidup ini. Waktu seakan lenyap. Kedalaman, kekayaan, dan tekstur tiap kesempatan hilang. Berhenti, meski hanya beberapa menit sehari, merupakan strategi untuk terhubung kembali dengan visi, kearifan, dan tujuan otentik.
Sewaktu datang ke rumah Mamik Prakosa, Mbah Surip sebenarnya hendak mengambil pit stop. Tapi, mesin turbo (jantung) Mbah Surip sudah tidak mau diajak beradu cepat lagi dengan budaya kemrungsung rutinitas jadwal pentas yang sudah padat yang masih terus dijejalkan. Requiem aeternam dona eis, Domine: Et lux perpetua luceat eis (Istirahat kekal berikanlah dia, ya Tuhan: Dan moga-moga terang abadi menyinari dia). (*)
*J. Sumardianta, penulis buku Simply Amazing: Inspirasi Menyentuh Bergelimang Makna (2009)