PIT STOP

[ Minggu, 09 Agustus 2009 ]
Oleh : J. Sumardianta*

Di ruang pit stop, pembalap melakukan penyegaran, menerima instruksi, memperbaiki mesin, mengisi bahan bakar, dan mengganti suku cadang.

Lagu merdu adalah lagu yang bi­­sa mengurai pikiran paling sedih. Syair lagu Tak Ada Yang Abadi milik Ariel Peterpan sungguh memberikan mak­na paling esensial buat misteri ke­­pergian terlalu cepat Urip Ariyan­to bin Kustiyo alias Mbah Surip. La­gu itu, dengan mengharukan, ber­kisah tentang kesementaraan hidup di dunia ini. Urip mung mampir ngom­be. Mung sakedeping netra. Hi­dup sekadar mampir minum. Ha­nya sekejap mata. Sehebat apa pun puting beliung mengamuk, sekencang apa pun jantung berdetak, tidak akan mampu berpacu melawan takdir.

Bagai meteor yang sekonyong-ko­nyong memijarkan cahaya, tapi dalam sekejap menghilang, pelantun la­gu-lagu reggae berpenampilan ek­sen­trik itu menggenapi kebenaran ung­kapan lama: kesturi mati karena bau­nya. Mbah Surip wafat di puncak ketenarannya.

Bermula dari heboh lagu sederhana nan menghibur Tak Gendong dan Ba­ngun Tidur, jadwal pentas Mbah Su­rip supergila padatnya. Kelelahan mem­buat tubuh si Mbah Surip limbung. Bunga kesturi yang sedang mekar ranum itu rontok saat me­ne­bar­kan aroma keharuman. Ma­sya­rakat Jepang punya sebutan karoshi,mati kelelahan karena kebanyakan kerja.

Kesibukan pentas, audiensi dengan fans, dan sesi wawancara wartawan men­jadi lubang hitam yang menelan habis energi artis pecandu kopi dan pe­rokok berat ini. Ketenaran memak­sanya menjadi hiperaktif. Popularitas menggiringnya pada ujung ke­le­tihan. Mbah Surip, saat diantar anak­nya “mengungsi” dengan sepeda motor ke rumah komedian Mamik Pra­kosa, sempoyongan dihajar kesibukan permanen.

Mbah Surip, meminjam ungkapan Da­vid Riesman dalam The Lonely Crowd (2001), adalah korban kerja sa­ma bercorak antagonistis rezim budaya massa -aku memperalatmu untuk mendapatkan apa yang aku ingin­kan. Almarhum penyanyi Gombloh dan pelawak Gepeng, pendahulunya, setali tiga uang.Diam-diam pro­duser, event organizer, stasiun te­levisi, media cetak, sentra-sentra clubbing, provider layanan telepon se­luler, dan fans menjadi monster yang menelan Mbah Surip di padang gurun kedangkalan artifisialitas.

Popularitas itu duri. Hukum besi ke­tenaran ini tidak bisa dihindari pe­sohor mana pun. Ketenaran bisa me­merosokkan selebriti pada kesibukan permanen. Kesibukan perma­nen merupakan keberhasilan palsu. Tak ubahnya dinding depan mente­reng sebuah gedung. Saat kesibukan di­paksa berhenti total, bangunan itu pun runtuh. Kesibukan permanen bu­kan saja tidak cerdas, tapi juga ti­dak waras. Ada sebuah kartun yang menggambarkan seorang pria duduk dalam peti matinya dengan sebuah kom­puter jinjing di pangkuan sedang membalas e-mail. Di bawah kartun tertera kalimat “Bahkan ketika kamu mati, kotak inbox masih penuh”.

Kesibukan membuat orang berope­ra­si dengan mode sedang bekerja te­rus-menerus. Baru beristirahat ke­tika segalanya telah terlambat. Kesibukan permanen bukan hanya kon­traproduktif. Pun membikin kewa­lahan. Kesibukan itu mengabdi waktu, bukan berorientasi pada tujuan. Terlalu sibuk merupakan halangan terbesar bagi pertumbuhan spi­ritual. Itu sebabnya, ketenaran dan kesuksesan mesti ditinjau ulang de­ngan cara mengaudit kesibukan.

Sudah fana hidup ini terkadang amat kejam dan sia-sia. Vanitas va­nitatum mundi. Kesia-siaan sebuah du­nia yang sia-sia. Adriano, mantan pe­nyerang Internazionale Milan, m­elarikan diri dari Italia. Ia memutus kon­trak secara sepihak karena tidak bahagia. Kemasyhuran sebagai pesepak bola rupanya membuat Adriano de­presi. Tiada malam yang tak dile­wat­kannya untuk mabuk di kelab ma­lam Kota Milano.

Bintang sepak bola Brazil itu me­milih meninggalkan Serie A yang gla­mor. Ia pulang ke kampung halaman. Adriano kembali menemukan gai­rah hidup di kampungnya. Di tem­pat kelahirannya yang kumuh dan merupakan sentra peredaran nar­koba, Adriano bisa berjalan de­ngan celana pendek tanpa alas kaki. Mengunjungi teman-teman masa ke­cilnya. Justru ketika dikembalikan ke habitatnya, Adriano merasa tak ke­kurangan apa pun. Satu-satunya ke­kurangan hanyalah perasaan syukur. Dan, itulah yang tidak diperoleh­nya di Serie A.

Balap mobil Formula 1 (F1) adalah olah­raga paling kencang di dunia. Un­sur pokok dalam memenangi per­tan­dingan F1 adalah pit stop. Tak se­orang pembalap pun, sekencang-ken­cangnya melaju, bisa mengangkat trofi kemenangan tanpa mengambil pit stop. Di ruang pit stop, pemba­lap melakukan penyegaran, menerima instruksi, memperbaiki mesin, mengisi bahan bakar, dan mengganti suku cadang. Lalu berangkat lagi dengan kondisi segar. Kemenangan seorang pembalap, salah satunya, sangat ditentukan manajemen pit stop.

Melatih kebiasaan berhenti secara ter­atur sebelum segalanya terlambat merupakan kebajikan penting untuk menjadi sukses dan waras dalam ma­syarakat serba tergesa, pragmatis, dan instan. Bila tidak pernah berhenti, pada akhirnya yang terlihat se­pintas hanyalah bagian permukaan dari hidup ini. Waktu seakan lenyap. Ke­dalaman, kekayaan, dan tekstur tiap kesempatan hilang. Berhenti, meski hanya beberapa menit sehari, merupakan strategi untuk terhubung kembali dengan visi, kearifan, dan tujuan otentik.

Sewaktu datang ke rumah Mamik Prakosa, Mbah Surip sebenarnya hendak mengambil pit stop. Tapi, mesin turbo (jantung) Mbah Surip sudah tidak mau diajak beradu cepat lagi dengan budaya kemrungsung rutinitas jadwal pentas yang sudah padat yang masih terus dijejalkan. Requiem aeternam dona eis, Domine: Et lux perpetua luceat eis (Istirahat kekal berikanlah dia, ya Tuhan: Dan moga-moga terang abadi menyinari dia). (*)

*J. Sumardianta, penulis buku Simply Amazing: Inspirasi Menyentuh Bergelimang Makna (2009)

Leave a Reply