PIT STOP
Di ruang pit stop, pembalap melakukan penyegaran, menerima instruksi, memperbaiki mesin, mengisi bahan bakar, dan mengganti suku cadang.
—
Lagu merdu adalah lagu yang bisa mengurai pikiran paling sedih. Syair lagu Tak Ada Yang Abadi milik Ariel Peterpan sungguh memberikan makna paling esensial buat misteri kepergian terlalu cepat Urip Ariyanto bin Kustiyo alias Mbah Surip. Lagu itu, dengan mengharukan, berkisah tentang kesementaraan hidup di dunia ini. Urip mung mampir ngombe. Mung sakedeping netra. Hidup sekadar mampir minum. Hanya sekejap mata. Sehebat apa pun puting beliung mengamuk, sekencang apa pun jantung berdetak, tidak akan mampu berpacu melawan takdir.
Bagai meteor yang sekonyong-konyong memijarkan cahaya, tapi dalam sekejap menghilang, pelantun lagu-lagu reggae berpenampilan eksentrik itu menggenapi kebenaran ungkapan lama: kesturi mati karena baunya. Mbah Surip wafat di puncak ketenarannya.
Bermula dari heboh lagu sederhana nan menghibur Tak Gendong dan Bangun Tidur, jadwal pentas Mbah Surip supergila padatnya. Kelelahan membuat tubuh si Mbah Surip limbung. Bunga kesturi yang sedang mekar ranum itu rontok saat menebarkan aroma keharuman. Masyarakat Jepang punya sebutan karoshi,mati kelelahan karena kebanyakan kerja.
Kesibukan pentas, audiensi dengan fans, dan sesi wawancara wartawan menjadi lubang hitam yang menelan habis energi artis pecandu kopi dan perokok berat ini. Ketenaran memaksanya menjadi hiperaktif. Popularitas menggiringnya pada ujung keletihan. Mbah Surip, saat diantar anaknya “mengungsi” dengan sepeda motor ke rumah komedian Mamik Prakosa, sempoyongan dihajar kesibukan permanen.
Mbah Surip, meminjam ungkapan David Riesman dalam The Lonely Crowd (2001), adalah korban kerja sama bercorak antagonistis rezim budaya massa -aku memperalatmu untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Almarhum penyanyi Gombloh dan pelawak Gepeng, pendahulunya, setali tiga uang.Diam-diam produser, event organizer, stasiun televisi, media cetak, sentra-sentra clubbing, provider layanan telepon seluler, dan fans menjadi monster yang menelan Mbah Surip di padang gurun kedangkalan artifisialitas.
Popularitas itu duri. Hukum besi ketenaran ini tidak bisa dihindari pesohor mana pun. Ketenaran bisa memerosokkan selebriti pada kesibukan permanen. Kesibukan permanen merupakan keberhasilan palsu. Tak ubahnya dinding depan mentereng sebuah gedung. Saat kesibukan dipaksa berhenti total, bangunan itu pun runtuh. Kesibukan permanen bukan saja tidak cerdas, tapi juga tidak waras. Ada sebuah kartun yang menggambarkan seorang pria duduk dalam peti matinya dengan sebuah komputer jinjing di pangkuan sedang membalas e-mail. Di bawah kartun tertera kalimat “Bahkan ketika kamu mati, kotak inbox masih penuh”.
Kesibukan membuat orang beroperasi dengan mode sedang bekerja terus-menerus. Baru beristirahat ketika segalanya telah terlambat. Kesibukan permanen bukan hanya kontraproduktif. Pun membikin kewalahan. Kesibukan itu mengabdi waktu, bukan berorientasi pada tujuan. Terlalu sibuk merupakan halangan terbesar bagi pertumbuhan spiritual. Itu sebabnya, ketenaran dan kesuksesan mesti ditinjau ulang dengan cara mengaudit kesibukan.
Sudah fana hidup ini terkadang amat kejam dan sia-sia. Vanitas vanitatum mundi. Kesia-siaan sebuah dunia yang sia-sia. Adriano, mantan penyerang Internazionale Milan, melarikan diri dari Italia. Ia memutus kontrak secara sepihak karena tidak bahagia. Kemasyhuran sebagai pesepak bola rupanya membuat Adriano depresi. Tiada malam yang tak dilewatkannya untuk mabuk di kelab malam Kota Milano.
Bintang sepak bola Brazil itu memilih meninggalkan Serie A yang glamor. Ia pulang ke kampung halaman. Adriano kembali menemukan gairah hidup di kampungnya. Di tempat kelahirannya yang kumuh dan merupakan sentra peredaran narkoba, Adriano bisa berjalan dengan celana pendek tanpa alas kaki. Mengunjungi teman-teman masa kecilnya. Justru ketika dikembalikan ke habitatnya, Adriano merasa tak kekurangan apa pun. Satu-satunya kekurangan hanyalah perasaan syukur. Dan, itulah yang tidak diperolehnya di Serie A.
Balap mobil Formula 1 (F1) adalah olahraga paling kencang di dunia. Unsur pokok dalam memenangi pertandingan F1 adalah pit stop. Tak seorang pembalap pun, sekencang-kencangnya melaju, bisa mengangkat trofi kemenangan tanpa mengambil pit stop. Di ruang pit stop, pembalap melakukan penyegaran, menerima instruksi, memperbaiki mesin, mengisi bahan bakar, dan mengganti suku cadang. Lalu berangkat lagi dengan kondisi segar. Kemenangan seorang pembalap, salah satunya, sangat ditentukan manajemen pit stop.
Melatih kebiasaan berhenti secara teratur sebelum segalanya terlambat merupakan kebajikan penting untuk menjadi sukses dan waras dalam masyarakat serba tergesa, pragmatis, dan instan. Bila tidak pernah berhenti, pada akhirnya yang terlihat sepintas hanyalah bagian permukaan dari hidup ini. Waktu seakan lenyap. Kedalaman, kekayaan, dan tekstur tiap kesempatan hilang. Berhenti, meski hanya beberapa menit sehari, merupakan strategi untuk terhubung kembali dengan visi, kearifan, dan tujuan otentik.
Sewaktu datang ke rumah Mamik Prakosa, Mbah Surip sebenarnya hendak mengambil pit stop. Tapi, mesin turbo (jantung) Mbah Surip sudah tidak mau diajak beradu cepat lagi dengan budaya kemrungsung rutinitas jadwal pentas yang sudah padat yang masih terus dijejalkan. Requiem aeternam dona eis, Domine: Et lux perpetua luceat eis (Istirahat kekal berikanlah dia, ya Tuhan: Dan moga-moga terang abadi menyinari dia). (*)
*J. Sumardianta, penulis buku Simply Amazing: Inspirasi Menyentuh Bergelimang Makna (2009)